Posted by: msyna | August 12, 2008

Belajar Sepanjang Hayat

Mengapa harus selalu belajar?

Dalam Islam ditegaskan menuntut ilmu itu wajib hukumnya atas setiap manusia. Rasulullah Muhammad SAW menyatakan, “tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”, dan juga “tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat.” Ini adalah isyarat kebutuhan akan belajar sepanjang hayat. Baik ditegaskan mengenai kebaikan orang yang senantiasa belajar dan sebaliknya ditegaskan bahayanya orang yang berhenti dari belajar.

1. Kebaikan orang yang selalu belajar (Keutamaan Belajar)

Manusia terdiri dari dua bagian utama. Pertama fisik, tubuh, badan dan anggota-anggotanya. Kedua rohani, pikiran, perasaan, anggapan, pandangan dan sejenisnya yang mendorong bagi bergeraknya anggota-anggota fisik. Fisik laksana hardware sedangkan rohani laksana software. Keduanya bekerja bertautan dan agar tetap ada, terjaga maka keduanya butuh energi. Berkurangnya energi bagi keduanya akan menyebabkan penurunan kinerja, tetap atau stabilnya energi pada keduanya menyebabkan keadaan konstan, jalan di tempat tidak mengalami peningkatan. Sedangkan meningkatnya energi pada keduanya, akan dapat menimbulkan proses peningkatan, upgrade sehingga keadaan akan menjadei lebih baik, maju. Secara fisik tak dimungkiri alur kualitasnya menyerupai kurva normal, seperti genta terbalik. Mula-mula lemah, kemudian menguat hingga mencapai puncak, kemudian berbalik menurun hingga berada pada titik tak berdaya, nol. Laju perubahan proses alami ini sedikit banyak dapat diatur dengan sejumlah perlakuan, di mana kualitas fisik produktif diupayakan memiliki rentang waktu yang relatif panjang dibandingkan non produktifnya. Mengkonsumsi makanan dan minuman yang berkualitas, disertai dengan olah raga teratur, diyakini dapat menguatkan fisik. Adapun belajar, mempelajari pengetahuan, keilmuan yang berkualitas, dan ini dijamin dengan di bawah pengawasan ahlinya atau istilahnya pembimbing atau guru, dan dilengkapi juga dengan olah meditasi, melakukan ritual doa-doa, wirid-wirid, atau tarekatan, diyakini dapat menguatkan rohani, batin, mental dan pikiran.

Latihan olah fisik/jasmani maupun mentalitas/pikiran sepertinya dapat dilakukan terus menerus sepanjang hayat. Bilamana dilakukan dengan strategi yang baik, maka berpeluang besar akan menghasilkan hal-hal yang luar biasa. Berbagai media yang dapat dimanfaatkan untuk upaya ini tersebar luas, tinggal kepekaan individu per individu melihat peluang-peluang ini dan memanfaatkannya secara efektif. Tidak dimungkiri peranan orang-orang yang telah berpengalaman dalam perhelatan memupuk dan mengembangkan bakat dan kreativitas diri sehingga menjadi tokoh-tokoh yang berpengaruh dan berperan besar dalam kehidupan ini, bisa memberikan inspirasi, bimbingan dan arahan kepada yang lainnya, terutama kepada generasi yang lebih muda hingga mampu meraih pencapaian-pencapaian besar, dan ini adalah suatu tradisi, budaya yang perlu diciptakan, dipertahankan dan dikembangkan. Bila tradisi seperti ini tumbuh, berkembang dalam suatu keluarga, maka dapat menjadikan keluarga itu menghasilkan turunan-turunan orang-orang besar. Inilah juga sebagai salah satu indikator untuk kriteria memilih jodoh atau pasangan hidup.

Jarang ada tokoh besar lahir tanpa ada tokoh-tokoh lain yang berperan dalam proses bertumbuhnya atau perkembangannya. Biasanya ada tokoh-tokoh yang menjadi pengarah, sumber inspirator bagi seseorang itu hingga ia tumbuh menjadi besar. Oleh sebab itu, seorang individu mutlak membutuhkan adanya seorang tokoh idola atau pavorite dalam hidupnya, dan ada pula tokoh yang berperan yang mengarahkan bersangkutan untuk mencapai atau paling tidak mendekati keadaan tokoh idolanya. Sering kita dengar bila melihat seseorang dan memberikan komentar atas keberadaanya dengan perkataan seperti “siapa dulu gurunya” atau “siapa dulu orang tuanya”. Selanjutnya, mari pelajari siapa tokoh atau manusia yang paling baik yang ada atau pernah ada di muka dunia ini, kumpulkan data atau fakta-faktanya. Setelah meyakini sosok pilihan tersebut, mulailah bergerak, berjuang, belajar untuk mengikut jalannya. Atas semua pernyataan di atas, peran guru tidak bisa dilepas. Gurulah, orang yang digugu, ditiru, diyakini dan dituruti nasehatnya sehingga ia mencapai apa yang diinginkan.

Kesimpulannya belajar adalah mutlak, waktunya sepanjang hayat, dimensinya lahiriah dan mental/rohaniah, media dan fasilitasnya luas, peran guru amat penting sekali, bahkan mutlak harus ada, karena dialah yang membimbing dan mengarahkan sehingga sampai tujuan secara efektif. Kalau untuk pemenuhan kebutuhan kehidupan di dunia ini saja, seseorang perlu sekolah, guru untuk meraih cita-citanya, apalagi untuk yang berdimensi akhirat.

(Bersambung …)


Responses

  1. Selama hidup dikandung badan, maka berhadapan dengan segala sesuatu yang terus berubah. Ini menuntut cara-cara baru untuk menghadapinya. Oleh sebab itu ilmu, pengetahuan, wawasan harus senantiasa diperbaharui. Belajar Seumur Hidup, Yess!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: